Mengenalkan Pertanian pada Generasi Z dan Alpha

  • 27 September 2021
  • Informasi
  • Kunjungan: 12068
Mengenalkan Pertanian pada Generasi Z dan Alpha

Mengenalkan Pertanian pada Generasi Z dan Alpha

Murid-murid sekolah dasar yang merupakan generasi Z dan Alpha perlu dikenalkan pada sektor pertanian. Generasi yang lahir di era industri 4.0 ini sangat dekat dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Kelak diharapkan mereka dapat mendorong perubahan untuk kemajuan sektor pertanian.

“Penting bagi kita meliterasi anak-anak sekolah dasar bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah. Dan pertanian menjadi salah satu sektor yang menopang perekonomian nasional,” kata Direktur Sekolah Dasar, Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd pada acara talkshow memperingati Hari Tani, 24 September 2021, di Garut, Jawa Barat.

Selain perlu memahami hasil-hasil pertanian, anak-anak sekolah dasar juga harus tahu proses yang dilakukan oleh para petani. Dari mulai mempersiapkan lahan, menyiapkan bibit tanaman pangan, menanam, merawat, hingga panen.

Di sektor pertanian juga perlu ada regenerasi. Saat ini, sebagian besar lahan pertanian di Indonesia diolah dengan cara tradisional. Masih sedikit yang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk pertanian. Bahkan sebagian besar petani bergantung pada musim hujan untuk mengolah lahan pertaniannya. Banyak lahan pertanian menganggur di musim kemarau.

Mengenalkan Pertanian pada Generasi Z dan Alpha

”Kita berharap ke depan sektor pertanian akan semakin maju dengan memanfaatkan pesatnya perkembangan teknologi. Generasi Z dan Alpha yang dekat dengan teknologi informasi, diharapkan dapat mendorong perubahan pada sektor pertanian. Itulah pentingnya kita mengenalkan mereka pada pertanian sejak dini,” kata Sri Wahyuningsih.

Menjaga dan melestarikan lahan pertanian juga sangat penting di tengah pesatnya industrialisasi dan pertambahan jumlah penduduk. Jangan sampai lahan pertanian dialihfungsikan menjadi pabrik dan perumahan. Kalau itu dibiarkan, lahan pertanian akan semakin sempit, dan upaya memenuhi kebutuhan pangan akan mengalami kesulitan.

”Kita harus membangun generasi bangsa yang mencintai pertanian. Generasi yang akan menjaga, melindungi dan memajukan sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan secara berkelanjutan,” kata Sri Wahyuningsih.

Selain dikenalkan pada pertanian, lanjutnya, anak-anak sekolah dasar juga harus diberikan pemahaman enam literasi dasar sebagai modal mereka meningkatkan kompetensi dirinya. Enam literasi dasar tersebut adalah literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, iterasi finansial, literasi budaya dan kewargaan .

Dalam acara talkshow itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Totong, S.Pd., M.Si., menjelaskan sebagian besar mata pencaharian masyarakat di Kabupaten Garut adalah bertani. Jadi anak-anak di Kabupaten Garut sejak dini sudah dikenalkan dengan pertanian tanpa diajarkan oleh guru.

“Meski demikian literasi tani kami masukkan ke dalam kegiatan sekolah seperti kurikuler, intrakulikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Kami di Garut terkenal dengan sebutan gurilap, karena wilayahnya lengkap memiliki gunung, rimba, laut, pantai dan sungai,” jelas Totong.

Mengedukasi anak-anak tentang pertanian di Kabupaten Garut dilakukan secara langsung ke sumbernya, yaitu lahan pertanian yang sering diistilahkan oleh para guru dan murid-muridnya sebagai laboratorium raksasa karena alam terbuka. Sebab, kalau hanya mengandalkan ruang kelas, pengenalan pada sektor pertanian kurang maksimal.

Dalam kesempatan yang sama, Beny Yoga Gunan Santika, M.P., Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut mengungkapkan, lahan pertanian yang ada di Kabupaten Garut mencapai 300.000 hektare. Dari angka tersebut, sekitar 42.000 hektare adalah lahan sawah.

Mengenalkan Pertanian pada Generasi Z dan Alpha

Kabupaten Garut ini menjadi salah satu penyangga untuk penyedia kebutuhan pangan Jawa Barat maupun nasional. Oleh karena itu masyarakat Kabupaten Garut membutuhkan adanya regenerasi untuk mempertahankan kekayaan alam dan pertanian di sana.

“Sesuai dengan Peraturan Daerah yang telah dikeluarkan oleh Bupati bersama DPRD Kabupaten Garut, kita terus mempertahankan serta mengembangkan lahan sawah di Kabupaten Garut,” ujar Benny.

Ema Halimah, Guru SDIT As-Salam Garut Kota mengatakan, pembiasaan pengenalan pangan terus dilakukan kepada peserta didik di sekolahnya. Karena menurutnya tak kenal maka tak sayang. Pengenalan pangan dan petani ke peserta didik dilakukan dari apa yang ada di sekitar.

“Edukasi yang kita lakukan adalah dimulai dari tanaman yang ada di lingkungan sekolah dulu. Mulai kita rawat, kita cintai, kita pelihara dan kita lestarikan sampai kita memanfaatkan untuk kehidupan kita. Jadi anak-anak setidaknya dikenalkan dulu mencintai, merawat yang ada di lingkungan di sekolah dan di rumah,” kata Ema Halimah. (Hendriyanto)

Aksesibilitas
Ukuran Font
Mode Kontras Tinggi