Di hadapan ribuan guru yang hadir pada Puncak Peringatan Hari Guru Nasional di Jakarta, 28 November 2024, Presiden Prabowo Subianto mengucap janji. Ia ingin menghadirkan layar televisi canggih di setiap sekolah seluruh Indonesia.
“Dari layar televisi ini, kita akan siarkan pelajaran-pelajaran, semua ilmu yang diperlukan sehingga tidak ada sekolah di daerah terpencil, tidak ada sekolah di mana gurunya kurang, tidak bisa menerima pelajaran yang terbaik untuk seluruh anak-anaknya,” katanya.
Janji itu direalisasikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. Layar televisi diejawantahkan menjadi perangkat pembelajaran pintar yang disebut Interactive Flat Panel atau Papan Interaktif Digital (PID). Didukung Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang Percepatan Pelaksanaan Program Pembangunan dan Revitalisasi Satuan Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Pembangunan dan Pengelolaan Sekolah Menengah atas Unggul Garuda, dan Digitalisasi Pembelajaran, secara bertahap PID dikirim ke semua sekolah di tanah air. Selain menghadirkan PID, guru-guru juga dilatih penggunaan dan pemanfaatannya.
Pada pembukaan Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah di Depok, Jawa Barat, 9 Februari 2026, Mu’ti mengatakan distribusi PID sudah berjalan baik. “Alhamdulillah, seluruhnya untuk 288 ribu sekian satuan pendidikan, sudah terdistribusi 100 persen dan hampir seluruhnya sudah mulai dipergunakan,” ungkapnya.
Namun kabar baik tak berhenti sampai di situ. Presiden Prabowo menginstruksikan keberlanjutan distribusi PID. Ia memerintahkan Kemendikdasmen untuk mengirimkan tiga PID per sekolah pada 2026 dan dua PID per sekolah pada 2027. Artinya, pada 2027, seluruh sekolah di Indonesia memiliki setidaknya enam PID.
Akses Tak Terbatas
Salah satu hambatan utama yang dihadapi sekolah-sekolah di kawasan Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) adalah sulitnya mengakses sumber pembelajaran relevan. Jangankan buku, jaringan internet dan listrik saja, di sejumlah tempat, belum bisa dinikmati. Maka sudah tepat bahwa pengiriman PID dilengkapi perangkat lain seperti panel surya bagi daerah yang belum tersentuh listrik dan internet satelit untuk wilayah yang belum terjangkau internet. Dengan pupusnya kedua hambatan tersebut, sekolah memiliki akses tak terbatas pada sumber pembelajaran digital.
Guru, dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam, memanfaatkan PID dalam mendukung pengayaan pembelajaran. Pembelajaran berjalan secara interaktif. Materi pelajaran yang abstrak, yang sulit terbayangkan sebelumnya, dapat divisualisasikan dengan mudah dan menarik.
Baik guru maupun murid dapat mengakses beragam sumber belajar di dunia maya secara mudah. Ilmu pengetahuan yang dibagikan oleh para pakar dan praktisi pendidikan melalui laman, video, dan media sosial dapat dikonsumsi setiap hari.
Kondisi ini akhirnya meniadakan kondisi geografis kota-desa dan perkotaan-pedalaman. Di dunia digital, tak ada sekolah yang berada di kawasan 3T. Akses belajar bebas tanpa batas. Tinggal kini penguatan kapasitas guru dalam memanfaatkan beragam sumber dan perangkat pembelajaran.
PID sebagai Sarana Berbagi
Melimpahnya sumber belajar di dunia digital tak serta merta membuat guru mampu memanfaatkannya. Untuk menjadi materi pembelajaran berbasis digital yang mendalam, interaktif, dan menarik juga diperlukan kemampuan untuk memilih, memilah, dan menyusun bahan. Belum semua guru, terutama di kawasan 3T yang sudah sangat lama belum menikmati kemajuan teknologi, memiliki kemampuan tersebut. Oleh karena itu diperlukan fasilitasi agar guru-guru di kawasan 3T mempunyai kemampuan yang sama seperti guru-guru hebat lainnya yang sudah lama memanfaatkan dunia digital.
Kembali kepada pidato Presiden Prabowo 2 tahun lalu. Perangkat Interaktif Digital menjadi sarana untuk bagi pengalaman pembelajaran dari guru-guru hebat. Di Jakarta, misalnya, akan dibuat studio lokasi syuting bagi guru-guru terpilih untuk membagi pengalaman menghelat pembelajaran. Difasilitasi melalui siniar, tutorial, atau diskusi daring serta webinar secara langsung. Guru di perkotaan dapat langsung berkomunikasi dengan guru-guru di kawasan 3T melalui PID.
Lambat laun tumbuh jejaring antarguru. Tak hanya bagi pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga kerja-kerja kolaboratif di antara mereka. Muncul komunitas belajar antar-KKG, antar-MGMP, dan antar-MKKS. Bahkan, kolaborasi belajar antarmurid dapat dibangun dengan fasilisitasi guru tentunya.
Papan Interaktif Digital akhirnya hanyalah sebuah alat. Namun, pemanfaatan yang tepat akan mendorong terciptanya digitalisasi pembelajaran di seluruh satuan pendidikan dan jejaring masif di kalangan kepala sekolah, murid, dan guru.*
Penulis : Billy Antoro
Editor : Amalia Khairati