Banjarmasin—Senin pagi (29/12/2025) yang basah di SD Negeri Sungai Jingah 5 Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin Ryan Utama menyusuri jalan coran semen yang dirembesi air. Maklum, sekolah yang ditujunya berada di atas rawa. Saat Sungai Martapura di dekatnya pasang, air rawa akan naik dan memenuhi jalanan hingga lapangan sekolah yang dipasangi conblock.
Ryan berhenti di depan toilet berukuran 4x14 meter itu. Dua toilet sebelah kiri untuk murid laki-laki dan dua toilet sebelah kanan untuk murid perempuan. Ia kemudian masuk, melihat-lihat bagian dalam toilet yang baru selesai 100% pertengahan Desember lalu. Tinggal digunakan oleh murid-murid di awal semester genap 2026.
Bangunan toilet berdiri di atas tanah rawa yang jaraknya sekitar 5 meter dari tepi Sungai Martapura. Toilet ini dibangun dari Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang dijalankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2025.
Ryan menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah karena sekolah yang setahun lalu, tepatnya 13 Februari 2024, terdampak gempa bermagnitudo 4,7 sehingga sejumlah bagian bangunan retak, mendapatkan program Revitalisasi Satuan Pendidikan. “Dengan penambahan bangunan yang ada, dengan penambahan fungsi yang baru, ke depannya kami harapkan mendapatkan lebih banyak lagi kesempatan untuk mendapatkan Program Revitalisasi dari Kemendikdasmen,” ujarnya.
Tahun ini, kata Ryan, Banjarmasin mendapatkan kuota tujuh SD. Tahun 2026, ada 56 SD yang menjadi sasaran program Revitalisasi di daerahnya. “Tahun berikutnya akan dapat lebih banyak lagi agar dapat bersinergi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam memajukan pendidikan dalam program belajar yang nyaman dan mengajar yang aman,” ucapnya.
Toilet Krusial bagi Kenyamanan Belajar Murid
Menurut Triyanti Handayani, guru SDN Sungai Jingah 5, keberadaan toilet sangat krusial bagi kebutuhan murid. Dengan murid berjumlah 615 orang dalam 18 rombongan belajar, toilet yang tersedia terasa kurang. Ia bersyukur program Revitalisasi menjaga sanitasi menjadi lebih baik dan kebersihan sekolah lebih terjaga. “Ketika kami mendapatkan bantuan Revitalisasi dari Kementerian, toilet kami menjadi lebih bagus dan lebih bersih,” ujarnya.
Tri berharap tahun depan sekolahnya mendapatkan lagi program Revitalisasi. Bangunan sekolah yang terdampak gempa tahun lalu masih banyak yang dalam kondisi memprihatinkan. “Kerusakan cukup parah. Banyak rengat, lantai sudah miring, dan tongkatnya sudah bergoyang sehingga membuat siswa kami tidak nyaman belajar,” ungkapnya. Bangunan sekolah dua lantai itu kemudian tidak digunakan lagi untuk kegiatan pembelajaran.
Wahidah, Kepala SD Negeri Sungai Jingah 5, merasa bangga menjadi bagian dari program Revitalisasi. Sistem yang digunakan membantunya dalam menyelesaikan pembangunan toilet sebanyak dua paket. Dengan pendampingan intens dari Dinas Pendidikan, sekolah dilibatkan mulai dari perencanaan hingga eksekusi di lapangan. “Kami juga melibatkan pihak perencana dan pengawas bangunan, Komite Sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah yang berperan aktif dalam program ini,” jelasnya.
Skema swakelola yang digunakan membuatnya leluasa melibatkan masyarakat sekitar dalam menyelesaikan pembangunan. Ia yakin murid dan orang tua akan senang melihat pembangunan toilet itu. Murid-murid tak perlu takut lagi pergi ke toilet sendirian karena kotor, bau, dan gelap. “Dengan pembangunan toilet, mereka tidak akan takut lagi ke toilet sendiri,” katanya.* (Billy Antoro, Ismail)