Pidie Jaya—Revitalisasi satuan pendidikan di Aceh terlaksana baik berkat kerja sama semua pihak. Upaya bersama ini akan mendorong warga Aceh segera bangkit dari bencana. Pembangunan kembali sejumlah sarana dan prasarana pendidikan merupakan usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa khususnya warga Aceh.
Demikian disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti saat meresmikan 29 sekolah hasil Program Revitalisasi Satuan Pendidikan di SMA Negeri 1 Meureundeu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Selasa (10/3/2026). Acara dihadiri oleh Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi; Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Murthalamuddin; Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Gogot Suharwoto; dan perwakilan sekolah penerima program revitalisasi.
Menurut Mu’ti, musibah adalah cara Tuhan meningkatkan harkat dan martabat manusia. Oleh karena itu penting untuk menanamkan pola pikir bahwa bersama dengan kesulitan pasti ada kemudahan. Bangkit tegak berdiri menghadapi berbagai masalah yang sedang dihadapi.
“Berbekal petunjuk tersebut, mari kita semua bangkit dan percaya diri bahwa dengan terus bersinergi semua masalah dapat terselesaikan dengan sebaik-baiknya,” ucapnya. Mu’ti menyampaikan terima kasih kepada jajaran Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya dan Dinas Pendidikan Provinsi Aceh atas sinergi membangun sarana dan prasarana pendidikan yang rusak akibat bencana banjir dan longsor.
Mu’ti menyampaikan komitmen untuk terus melanjutkan program revitalisasi. Program revitalisasi, tambahnya, diprioritaskan berjalan di tiga wilayah atau tiga kategori. “Pertama, kami akan memprioritaskan kepada sekolah yang terdampak bencana. Kedua yaitu sekolah yang kondisi bangunannya rusak berat, dan sekolah yang berada di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar,” jelasnya.
Sibral Malasyi menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Kemendikdasmen atas dukungan dan perhatian penuh kepada Pidie Jaya melalui program revitalisasi. Menurutnya, kunjungan Mendikdasmen dapat membawa semangat baru untuk pemajuan pendidikan Pidie Jaya yang lebih baik. Pada 2025, program itu berjalan secara berahap di Kabupaten Pidie Jaya dan telah menjangkau 3 TK, 16 SD, 4 SMP, 4 SMA, dan 2 SMK.
"Program revitalisasi menjadi bagian dari upaya bersama untuk memastikan proses pembelajaran berlangsung dengan aman dan nyaman di tengah situasi pascabencana,” ujarnya. Ia berharap program ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan daerah dan memberikan kesempatan belajar lebih luas kepada semua warga Pidie Jaya.
Sementara Murthalamuddin menilai keberhasilan program revitalisasi menjadi pemantik bagi seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan agar terus bangkit pascabencana Aceh. "Semoga semangat untuk terus bangkit dan memulihkan layanan pendidikan di Kabupaten Pidie Jaya dapat menginspirasi daerah lainnya untuk juga semangat dan terus melangkah, menatap masa depan pendidikan yang lebih maju untuk warga Aceh," ujar nya.
Ia juga sangat menghargai kehadiran Mendikdasmen yang sudah sekian kali datang ke Aceh untuk memantau progress pemulihan layanan pendidikan pascabencana. Pendidikan, katanya, merupakan sektor yang paling pesat pemajuannya pascabencana di Aceh.
Sekolah sasaran program revitalisasi di Kabupaten Pidie Jaya mencakup jenjang TK, SD, SMP, SMA, dan SMK. Ke-29 sekolah itu yaitu TK Negeri TGK Chik Diuteun Bayu, TK TGK Dibatee Puteh, TK Negeri Malahayati, SD Negeri 2 Panteraja, SDN 18 Bandar Baru, SDN 13 Trienggadeng, SDN 21 Bandar Baru, SDN 24 Bandar Baru, SDN 2 Jangka Buya, SDN 2 Meurah Dua, SDN 5 Bandar Dua, SDN 7 Meureudu, SDN 10 Trienggadeng, SDN 1 Ulim, SDN 2 Meureudu, SDN 2 Meureudu, SDN 14 Bandar Baru, SDN 7 Bandar Dua, SDN 9 Trienggadeng, SDN 8 Meureudu, SMPN 2 Bandar Dua, SMPIT Darul Muttaqien, SMPS Ummul Ayman II, SMP Ulumul Qur’an Pidie Jaya, SMAN 2 Bandar Baru, SMAN 1 Bandar Baru, SMAN 1 Meureudu, SMAN 1 Trienggadeng, SMK Budi, dan SMK Ummul Ayman 2.*
Penulis : Billy Antoro
Editor : Amalia Khairati
Sumber: Siaran Pers Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen