Rakor Kepala Daerah Merajut Asa di Era Digital, Revitalisasi Pendidikan sebagai Fondasi Manusia Unggul Sinergi Pusat Daerah dan Komitmen Melawan Ketertinggalan

  • 19 November 2025
  • Berita
  • Kunjungan: 2367
Rakor Kepala Daerah Merajut Asa di Era Digital, Revitalisasi Pendidikan sebagai Fondasi Manusia Unggul Sinergi Pusat Daerah dan Komitmen Melawan Ketertinggalan

Tangerang, GIAT SD – Suasana Ruang Serbaguna Hotel Novetel di Tangerang pada pertengahan November itu terasa penuh energi dan optimisme. Ratusan perwakilan pemerintah daerah (Pemda) dari Sabang sampai Merauke berkumpul. Mereka bukan membahas soal infrastruktur jalan atau tata kota semata, melainkan tentang masa depan bangsa yang dirajut melalui ruang-ruang kelas: Pendidikan Bermutu untuk Semua.

 

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah menggulirkan inisiatif masif: Program Prioritas Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran. Sebuah program yang bukan sekadar janji, tetapi sebuah cetak biru transformasi yang bertujuan mengakhiri disparitas kualitas pendidikan di Tanah Air.

 

Kehadiran 429 perwakilan kabupaten/kota dan 29 pemerintah provinsi, dengan tingkat komitmen mencapai 82% dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Kepala Daerah ini, adalah bukti nyata bahwa visi tersebut telah diinternalisasi sebagai agenda bersama.

 

Ketika Sekolah Bukan Lagi Bangunan Usang

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, dalam pidato pembukanya, dengan tegas menyebutkan bahwa keberhasilan program ini adalah proyek gotong royong nasional.

 

“Dukungan dari semua pihak, terutama pemerintah daerah, sangat krusial. Program ini adalah kelanjutan dari upaya kita bersama. Revitalisasi sekolah dan akselerasi digitalisasi harus berjalan beriringan untuk memastikan tidak ada anak Indonesia yang tertinggal,” ujar Menteri Mu’ti, menekankan bahwa pendidikan adalah hak esensial yang harus diwujudkan dalam fasilitas yang layak dan modern.

 

Program revitalisasi satuan pendidikan ini melampaui sekadar perbaikan fisik. Ia adalah upaya sistematis untuk mengubah citra sekolah dari bangunan yang ringkih, bocor, atau usang, menjadi pusat pembelajaran yang inspiratif, aman, dan memadai.

 

Data awal menunjukkan, masih ada ribuan ruang kelas di Indonesia yang berada dalam kondisi rusak sedang hingga berat, menjadi penghambat utama proses belajar-mengajar yang efektif. Revitalisasi hadir untuk menambal lubang-lubang ketertinggalan tersebut, memastikan keselamatan dan kenyamanan, sekaligus menanamkan rasa bangga bagi peserta didik dan guru.

 

Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, memaparkan bahwa Rakor ini adalah instrumen penting untuk penyelarasan kebijakan dan penguatan pengawasan. “Memastikan setiap rupiah dari anggaran negara tepat sasaran pada satuan pendidikan yang paling membutuhkan,” tegasnya.

 

Langkah ini diambil untuk menghindari praktik penganggaran yang tidak efisien, dan memastikan intervensi kebijakan benar-benar menyentuh the last mile pendidikan di daerah-daerah terpencil.

 

Investasi Masa Depan Kota Manado

Optimisme atas program ini terasa kental di kalangan kepala daerah. Wali Kota Manado, Andrei Angouw, yang hadir dalam Rakor tersebut, menyebut program ini sebagai investasi strategis yang dampaknya jauh melampaui perbaikan fisik semata. “Program revitalisasi dan digitalisasi ini bukan sekadar perbaikan infrastruktur, tetapi sebuah investasi untuk masa depan anak-anak Manado,” kata Andrei.

 

Manado, sebagai salah satu kota di Indonesia bagian timur, melihat peluang besar untuk mencetak manusia-manusia berkualitas yang siap bersaing di kancah nasional maupun global. Melalui kolaborasi erat dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sulawesi Utara, Manado telah mencatat kemajuan nyata.

 

Sebanyak 10 satuan pendidikan dari berbagai jenjang (PAUD, SD, SMP, dan SMA) di Kota Manado telah menerima manfaat program revitalisasi. Angka ini mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya terasa transformatif.

 

Lebih lanjut, Manado menunjukkan komitmen pada aspek digitalisasi: 145 sekolah di wilayahnya telah mendapatkan dukungan pembelajaran dengan Papan Interaktif Digital (Interactive Flat Panel). Ini adalah langkah fundamental untuk menyiapkan peserta didik agar tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki daya saing tinggi dan siap menghadapi tantangan di era digital.

 

Papan Interaktif Digital diyakini sebagai kunci untuk mengubah metode pengajaran yang kaku menjadi lebih dinamis, visual, dan kolaboratif. Ini adalah jembatan menuju Sekolah 4.0 yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

 

Bukti Nyata di Kaki Bukit Rejang Lebong

Kisah sukses serupa datang dari Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Bupati Muhammad Fikri Thobari, menyampaikan apresiasi atas progres signifikan yang telah dirasakan di wilayahnya. Rejang Lebong, yang terletak di kawasan perbukitan, secara geografis memiliki tantangan yang berbeda. Akses dan logistik kerap menjadi kendala, namun program ini mampu menembusnya.

 

“Di Rejang Lebong, kami telah melihat dampaknya secara langsung. Dengan anggaran revitalisasi sekitar Rp36 miliar, telah dilakukan revitalisasi di 17 satuan PAUD, 38 SD, dan 5 SMP di tahun 2025,” ungkap Bupati Fikri. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari ratusan, bahkan ribuan, anak yang kini bisa belajar di ruang kelas yang layak dan aman.

 

Anggaran Rp36 miliar yang terserap untuk 60 sekolah di Rejang Lebong menjadi indikator bahwa program ini berjalan secara terukur dan merata. Harapan Bupati Fikri untuk tahun 2026 adalah agar lebih banyak lagi sekolah yang direvitalisasi, sehingga fasilitas belajar yang layak dan modern menjadi norma, bukan lagi pengecualian.

 

Digitalisasi Pembelajaran: Menghapus Digital Divide

Revitalisasi satuan pendidikan hanyalah satu sisi dari koin transformasi. Sisi lainnya yang sama krusial adalah Digitalisasi Pembelajaran. Di era revolusi industri 4.0, pendidikan dituntut untuk menghasilkan lulusan yang melek teknologi, memiliki kemampuan berpikir kritis, dan adaptif.

 

Program digitalisasi yang digalakkan Kemendikdasmen mencakup penyediaan sarana TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) seperti komputer, laptop, proyektor, hingga konektivitas internet. Namun, digitalisasi tidak akan berhasil tanpa kapasitas guru.

 

Oleh karena itu, program ini juga harus dibarengi dengan pelatihan guru secara masif agar mereka mampu mengintegrasikan teknologi ke dalam kurikulum dan metode pengajaran.

 

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah kesenjangan digital (digital divide) antara sekolah di perkotaan dan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Digitalisasi pembelajaran ini berfungsi sebagai katalis pemerataan. Melalui konten digital terpusat dan akses perangkat keras yang disalurkan ke daerah, diharapkan kurva kualitas pendidikan di seluruh Indonesia dapat dirapatkan.

 

Ke depan, program ini tidak hanya akan berfokus pada perbaikan fisik dan penyediaan perangkat. Integrasi kurikulum merdeka yang memberikan fleksibilitas kepada guru dan murid, akan menjadi semakin optimal dengan dukungan teknologi.

 

Papan Interaktif Digital dan akses internet cepat memungkinkan eksplorasi sumber belajar dari seluruh dunia, mengubah peran guru dari penyampai informasi menjadi fasilitator pengetahuan.

 

Sinergi Pemda dan Kemendikdasmen yang terjalin saat ini adalah kunci untuk memastikan visi Pendidikan Bermutu untuk Semua tidak terhenti di meja rapat. Komitmen anggaran, pengawasan yang ketat oleh UPT BPMP di daerah, dan semangat gotong royong para kepala daerah menjadi fondasi kokoh untuk merajut asa di setiap ruang kelas, dari Manado hingga Rejang Lebong. Investasi hari ini adalah jaminan lahirnya generasi unggul yang siap memimpin Indonesia di masa depan.

Aksesibilitas
Ukuran Font
Mode Kontras Tinggi