Partisipasi satuan pendidikan dalam menyelesaikan berbagai persyaratan administrasi program Revitalisasi Satuan Pendidikan patut diapresiasi. Sebab, dari kuota 31.000 satuan pendidikan yang mendapatkan program revitalisasi tahun 2025, sudah 30.000 satuan pendidikan yang melengkapi administrasi.
“Jadi 90% itu sudah mau melengkapi. Meskipun ada yang lengkap, ada yang setengah lengkap. Tapi intinya mereka mau kerjakan,” kata Jefry Haloho, narasumber kegiatan ‘Verifikasi dan Validasi Data Revitalisasi Sekolah Dasar Tahun 2026 dengan Pemerintah Daerah’, usai menyampaikan materi di Hotel Grand Mercure Harmoni Jakarta, Selasa (16/12/2025). Acara yang digelar pada 15—18 Desember 2025 ini diikuti oleh 704 orang dari 514 dinas pendidikan kabupaten/kota se-Indonesia.
Kondisi tersebut terjadi dengan sejumlah perbaikan. Sebab, menurutnya, di tahun pertama program Revitalisasi Satuan Pendidikan, tim bekerja sambil mengembangkan sistem. Dengan begitu diharapkan pada program tahun mendatang sistem sudah terbangun. “Semuanya termonitor by application,” ucapnya.
Menurut Jefry, tantangan yang dihadapi tiap pihak berbeda-beda. Direktorat Sekolah Dasar menghadapi tantangan pada upaya menjangkau perkembangan informasi di sekolah. Seharusnya pengawalan terhadap proses perencanaan sampai serah terima didukung oleh teknologi. Mestinya teknologi tidak sekadar alat pelaporan melainkan alat komunikasi.
Berikutnya tantangan yang dihadapi Sekolah Dasar. Jumlah sasaran program Revitalisasi terlalu luas dan tak ada Tata Usaha di jenjang ini. Imbasnya, pertanyaan kepada sekolah tidak lekas terjawab. “Makanya peran dinas pendidikan sangat penting,” ungkapnya.
Sementara tantangan di Dinas Pendidikan sendiri yaitu ketiadaan dana pengelolaan kegiatan terkait program Revitalisasi. “Kita sendiri memang tidak bisa menyediakan karena tidak ada mekanisme untuk bisa kasih ke Dinas. Karena jalurnya cuma bantuan ke sekolah,” ungkap Jefry.
Perencanaan 2026
Jefry menyebutkan sejumlah refleksi dan perencanaan 2026. Pada 2025, reviu Perjanjian Kerja Sama baru dimulai pada Mei-Juni. Tahun depan, hal itu akan dilakukan pada Februari 2026. Dengan begitu, proses pelaksanaan Revitalisasi lebih cepat. Namun perlu dipertimbangkan juga dengan cuaca karena biasanya awal tahun curah hujan tinggi dan pembangunan di sekolah dapat terhambat.
Melihat kondisi itu, tambah Jefry, 2026 akan banyak penyesuaian. Kendati ruang kelas tetap menjadi prioritas revitalisasi (rehabilitasi dan pembangunan), dukungan prasarana lain yang menunjukkan pengembangan lingkungan belajar yang nyaman juga akan diperhatikan seperti perapian taman dan jalan serta pengecatan dinding.
Menurut Jefry, suasana belajar bagi murid-murid SD juga penting diperhatikan. “Mungkin terasa tidak terlalu banyak. Tapi ternyata kalau disediakan, mungkin akan punya efek domino yang lebih besar bagi anak-anak,” jelasnya.* (Billy Antoro)